Rabu, 20 Juli 2011

Pikiran kita sama?

Pikiran kita sama atau tujuan kita yang sama. 
Kamu ke sana, saya ikut. 
Kamu senyum, saya balas senyum. 
Kamu meminta, saya mengangguk.
Sesuai setir mobil yang bisa kamu belokkan kanan dan kiri. 
Yak,memang pikiran kita sama.
Tunggu tunggu!
Apa ada yang salah?
Saya tidak begitu tahu.
Kenapa tidak kau balik?
Dibalik seperti apa?
Saya ke sana, kamu ikut.
Saya senyum, kamu balas senyum.
Saya meminta, kamu mengangguk.
Apa ada yang salah?
Oh tidak.
Enggak, enggak. ini ada yang salah.
Di bagian mana?
Badanmu yang besar, kenapa tidak kau kuruskan saja.
Aku jarang olahraga.
Apa itu salah?
Iya salah.
Lalu?
Sama seperti itu, saling lengkapi.
Maksudnya?
Pikiran kita berbeda.
Apa buktinya?
Kita bisa sama karena kita berbeda.
Tidak mungkin. Bagaimana caranya?
Saling Melengkapi. 

Idealis munafik idealis munafik

Idealis sebagaimanamestinya. Munafik tidak sebagaimanamestinya.
Apakah semua orang dunia ini idealis? atau munafik?
Idealis Munafik Idealis Munafik.
Seperti Prestasi dengan Sensasi.
Seperti Jenius dengan Idiot.
Seperti Emas dengan Pirit.
Seperti Sungai dengan Tempat Sampah.
Seperti Bangga dengan Besar Kepala.
Seperti Percaya diri dengan Tinggi Hati.
Yang kadang kadang dibilang sama oleh sebagian orang tapi pada dasarnya berbeda.
Apakah kita punya hak untuk idealis? Jawabannya adalah tentunya kita tidak punya hak untuk munafik.
Jangan coba coba untuk idealis sebelum bercermin sepenuh diri.
Jangan salahkan orang orang yang berusaha untuk idealis yang kemudian berubah menjadi munafik.
Sama saja berdagang, berusaha untung malah merugi.
Sama saja belajar, berusaha pintar malah sok pintar.
Jadikan idealis sebagai mimpi. Maka tak ada yang salah untuk berusaha idealis.

Geologi dan Seni

Sebenarnya ada tiga pertanyaan.
Apakah geologi itu merupakan bagian dari seni?
atau sebaliknya seni itu bagian dari geologi?
atau ada yang berpendapat lain?
Jika saya disuruh menjawab, saya akan menjawab geologi adalah seni. Entah itu masuk golongan pertanyaan yang mana. Tapi saya yakin kalau itu jawaban yang tepat.
Seni dalam kehidupan manusia, awalnya seni itu adalah ilmu. Ilmu apa saja atau pengetahuan dalam bidang apa saja. Namun sekarang ini seni berkaitan dengan keindahan, kesenangan dan estetika. Seni sangat sulit untuk dijelaskan tapi sangat mudah untuk dirasakan. Begitulah kurang lebihnya.
Apa seni itu? Orang awam akan menjawab. Seni itu adalah lukisan, musik, tarian dan sebagainya.
Lalu apa geologi itu?
Apabila dalam segi bahasa memang terpaut jauh dengan seni. Tapi jika kita melihat apa yang ada di dalamnya pasti kita akan spontan menyebutkan kalau itu adalah seni. Geologi juga bisa melukis, bisa bermain musik, dan juga bisa menari.





Ini lukisan bukan? saya jawab BUKAN. Memang bukan tapi ini adalah gambar-gambar suatu bentukan alam yang diciptakan oleh Allah SWT. Seniman pasti akan menyebut ini sebagai suatu seni dan ini bukan sekedar imagi sang pelukis. Ini nyata dan ini ada di dalam bumi ini.

Geologi juga bisa bermain musik. Bagaimana bisa?saya jawab BISA. Pernah dengar irama irama sungai gemiricik, mengalir dan jatuhan air dari daun yang mengeluarkan birama ketukan?itu adalah salah satunya.
Ada lagi yaitu Gua Tabuhan di Pacitan. Stalagtit dan Stalagmitnya apabila kita pukul akan terdengar bunyi yang bernada berbeda beda yaitu da mi na ti la da dan do re mi fa sol la si do.


Geologi bisa menari?



Bagaimana tariannya? gemulai bukan? :D

Selasa, 28 Juni 2011

See You Next Time


Kata-kata perpisahan yang dramatis menurut gue. Makanya kata kata ini gue pakai sebagai judul instrument gue yang terinspirasi sama lagunya Every Time We Say Goodbye - Diana Krall. Liburan panjang selama 3 bulan, entah hari apa, tanggal berapa. Gue iseng iseng main gitar, nah taunya enak juga kalo gue rekam. Yak memang rada gajelas instrumentnya. Tapi gatau kenapa kalo gue denger nadanya, pasti inget masa masa gue muda dulu (SMA). Kebayang kalo gue pulang sore dan jalan dari sekolah sampai terminal buat naik bus menuju rumah bersama teman teman, makan masakan sunda di pinggir jalan, main gitar di kelas dan banyak lagi. Inilah instrument  buat masa masa SMA gue. 

Senin, 27 Juni 2011

Membenahi Otak, Membenahi Badan Tidak Serumit Membenahi Mulut

F*ck, An***g, Go***k, B***sa*, yak cukup ada yang mau nambahin? hahaha
Mungkin kata kata di atas sudah tak asing lagi kita dengar, enggak di sekolah, di pasar, perkuliahan, kantor, pokoknya di semua tempat. Kadang kadang gue juga suka ikut ikutan sih, apalagi yah kalo mood gaenak udah gitu ada yang mancing mancing buat ngomong gitu. Walaaah, sulit memang buat ngehindarin. Tapi ada juga yang memang udah kesehariannya ngomongnya gini, (gue termasuk ga ya? kayaknya sih termasuk :p). Tapi apakah kalian semua yang sama seperti gue ini pengen berubah atau meminimalisir kata kata kotor yang kita keluarkan? Kalo gue sih mauuu. Gue suka kepikiran, gimana bisa masuk surga kalo omongan gue kayak begini? gimana gue bisa liat sungai kopi dan sungai susu bertemu dan membentuk delta susu kopi dan ada pasir pantai kopi dan susu bubuknya?
Sebenernya ada dua faktor buat menghilangkan perilaku seperti ini. Anda semua pasti tau. Yaitu :


1. Faktor Dalam Diri
Namanya juga internal pasti ujung-ujungnya faktor dari dalam diri kita. Maksudnya kita harus tumbuhkan rasa kemauan untuk menghilangkan kebiasaan buruk ini. haha, kalo teori sih emang gampang tapi yaa harus ikhtiar juga kitanya. :D


2. Faktor Luar (Lingkungan)
Nah ini sebenernya adalah biang dan penyebab kita bisa seperti itu, yak memang lingkungan lah yang membuat kita seperti ini. Mau ga mau, kita lebih banyak bergaul yang memang belum tercemar oleh perilaku seperti itu, kalaupun susah yah kita tahan diri, kontrol mulut untuk menggantikan kata kata kotor itu dengan kata kata yang lebih enak di dengar. haha lagi lagi teori.


Semua memang berawal dari teori, baru kita nanti ikhtiar untuk mencapai yang terbaik. Semoga teman teman kita bisa mendukung kita untuk merubah kebiasaan buruk menjadi baik tentunya. Semoga bermanfaat. :p

Minggu, 26 Juni 2011

Diana Krall

Diana Krall. Ada yang tau dia itu siapa? oke anda pintar, dia adalah penyanyi sekaligus pianis romantic jazz dari Kanada. Dia adalah satu satunya penyanyi wanita yang bikin gue ngerti gimana cara menikmati musik jazz yang nadanya sumbang tapi ga sumbang. Bingung juga yah, ya tapi gitu deh. ngerti kan maksudnya?
Kata temen gue, gue itu punya selera musik yang rada aneh, jazznya juga bukan kebiasaan orang, tapi jazz buat orang orang tua, yah seperti lagunya Diana Krall gitu. Tapi kalo di pikir pikir, iya juga sih. ah bodo amat dah.
Diana Krall lahir di  Kanada16 November 1964. Udah tua kaaan? sekarang aja dia umurnya hampir 47 tahun. Tapi masih cantik menurut gue. :)
Dari karakter suara, nah ini yang paling gue demen. enggak tau kenapa setiap ngedenger suaranya dia, walaaah teringat waktu gue berjuang waktu tes sana sini buat masuk universitas.haha
Kenapa gue kali ini ngebahas diana krall? ada yang mau tau?haha lucu sih. Rencana gue, kalo gue sukses nanti, punya duit banyak terus di hari pernikahan gue (ceilah) gue mau dia nyanyi waktu persepsi perkawinan gue. Waaaaaa, aamiin :D. Mungkin dia udah berumur 50 tahun ke atas yah?haha, mudah mudahan suaranya sama sekali ga berubah sama yang sekarang.


Doain yaaa, pasti di undang ko semua kalo memang bener kesampaian. Okeee :)

Sabtu, 25 Juni 2011

Pengkastaan Pelajar



Okee, note saya selanjutnya adalah tabiat tabiat remaja masa kini. Mudah mudahan gue masih tergolong usia remaja. hahahaha
Perhatikan tulisan berikut dan ambil hikmahnya yaaaa :)


Sekolah di SMP – SMA, mulai dari ujung Artik sampe Antartika dan Planet Merkurius sampe pluto, pasti ada yang namanya ‘pengkastaan pelajar’. Seolah-olah di sekolah hanya ada 2 jenis pelajar, yang Populer (Gaul) dan yang Cupu. Populer pada umumnya berarti good looking, modis, keren, gaul, berkecukupan, hobi party dan foya -foya,bawa mobil, di behel serta selalu menjadi trendsetter. Kebalikannya, cupu kebanyakan berpenampilan sederhana, kaku, rajin dan pintar, pendiam, senang menyendiri, dan tidak terlalu suka menjadi pusat perhatian.
Disadari atau tidak, 2 golongan ini pasti tercipta di sekolah menengah manapun. Entah sekolah favorit, pinggiran, agamis, umum, kota, desa, atau apalah. Selama ada remaja di situ, pasti secara tidak langsung ada ‘pengkastaan’ macam ini.
waaaah, kenapa yah kira-kira?
Jawabannya tidak ada yang pasti. Sepertinya ini sudah menjadi semacam ‘tradisi’, yang mungkin tercipta karena adanya kesenjangan sosial sejak era industrialisasi atau mungkin penganutan budaya yang udah kecampur sana sini, sok british sok amrik dsb. Tapi bisa dimaklumi bahwa saat pelajar berusia remaja, maka ia cenderung ingin membuktikan diri dan menjadi keren di mata teman-temannya.
Soal ‘pengkastaan’ ini, tampaknya kita bisa membaginya menjadi 4 golongan pelajar yaitu :


Pertama, jenis yang dari sononya udah punya bakat populer dan sadar bahwa dia populer. Yaitu mereka yang menarik secara fisik dan atau kepribadian, dan cenderung banyak ‘pengikut’ tanpa bersusah payah. Ya, mereka adalah ‘trendsetter alamiah’, jenis yang entah kenapa sudah memancarkan daya tarik tersendiri sejak pertama kali terlihat.




Kedua, jenis yang biasa-biasa saja tapi ingin dianggap populer. Mereka ini biasanya yang jadi ‘pengikut’ si ‘populer alamiah’ (Mungkin Alay juga berawal dari orang tipe ini). Banyak dari mereka adalah penjilat yang mengingkari diri sendiri demi bisa bergaul dengan si populer. Golongan ini adalah yang paling ‘sadar diri’ soal ‘pengkastaan’, dan gue curiga jangan-jangan sebenarnya mereka lah yang pertama kali ‘menciptakan’ sistem ‘pengkastaan’ ini, haha (Setuju ga?).




Ketiga, jenis yang berbakat populer tapi tidak ingin dianggap populer. Mereka ini adalah ‘trendsetter’ yang cuek dan tidak ambil pusing soal pengkastaan. Padahal sebenarnya banyak yang ingin jadi ‘pengikut’ mereka. Tapi mereka merasa itu hal yang nggak penting dan mereka enjoy aja dengan diri mereka sendiri. (Gue sih kalo di suruh milih, pilih tipe orang kayak begini aja. Kalo lo?)




Keempat, jenis yang biasa-biasa saja yang memang tidak ingin dianggap ‘luar biasa’. Yaitu mereka yang tidak populer dan tidak peduli dengan ‘ketidakpopuleran’ mereka. Yang terpenting bagi mereka adalah mengerjakan hal2 yang mereka sukai tanpa ambil pusing dengan hal-hal semacam itu. Atau bahkan, mereka ga tau kalo ‘pengkastaan’ itu ada (polos)

Ah, tapi masalah itu ga terlalu penting. Sebenarnya istilah ‘populer’ dan ‘cupu’ itu sendiri tergantung pandangan setiap orang kok. Kalau kita merasa bahwa ‘pengkastaan’ itu nggak perlu ada, maka kita akan bisa bergaul dengan siapapun, dan tidak berusaha membedakan mereka termasuk ‘populer’ atau ‘cupu’. Dan ini lebih menguntungkan, karena pada dasarnya berteman dengan setiap orang pasti ada kurang dan lebihnya. Kalau bisa berteman dengan semua orang, tentu alangkah bahagianya kita hidup di dunia ini. :)



Hayo hayoo, udah baca ini sadar dong yaaaah. :p


Daftar Pustaka : Gambar di Google